Selasa, 21 Juni 2016

Kapitalisme Theology



KAPITALISME: SERING TERDENGAR, TAK BANYAK YANG PAHAM
Kapitalisme adalah satu kata yang kerap muncul dalam berbagai ruang. Namun, ternyata–ini menyedihkan–bagi banyak orang, kapitalisme sekadar kata yang memiliki bunyi. Maknanya jauh masih di awang sana.
Kapitalisme
Dalam berbagai paparan teoritis, kolonialisme, imperialisme, kapitalisme, dan globalisasi merupakan fenomena-fenomena yang terkait. Imperialisme berarti politik untuk menguasai (dengan paksaan) seluruh dunia untuk kepentingan diri sendiri yang dibentuk sebagai imperium. Menguasai di sini tidak berarti merebut dengan kekuasaan senjata, tetapi dapat dijalankan dengan kekuatan ekonomi, kultur, agama, dan ideologi, asalkan dengan paksaan.
Dalam definisi lain, imperialisme dikatakan sebagai upaya perluasan dengan paksaan wilayah satu negara dengan melakukan penaklukan teritorial yang menjadi dasar pembentukan dominasi politik dan ekonomi terhadap negara-negara lain yang bukan merupakan koloninya (http://en.wikipedia.org/wiki/Imperialism). Dalam semua definisi imperialisme, ada beberapa konsep yang selalu muncul: perluasan wilayah, penguasaan atau dominasi dengan paksaan (koersi), dan dominasi politik, budaya, serta ekonomi. 
V.I. Lenin menyatakan bahwa bahwa kapitalisme mencakup kapitalisme monopoli sebagai imperialisme untuk menemukan bisnis dan sumber daya baru (Lenin, 1916 dalam http://www.marxist.org). Definisi Lenin, “the highest stage of capitalism” mengacu pada saat ketika monopoli kapital finansial mendominasi, memaksa negara dan korporasi swasta bersaing untuk mengontrol sumber daya alam dan pasar.
Karl Marx juga mengidentifikasi kolonialisme sebagai salah satu aspek prahistori moda produksi kapitalis. Selain itu, teori imperialisme Marxist, dan teori dependensi yang terkait, menekankan pada hubungan ekonomi antarnegara (dan di dalam negara-negara), alih-alih hubungan formal politik dan militer. Dengan begitu, imperialisme tidak selalu berupa satu hubungan kontrol yang formal satu negara atas negara lain, melainkan eksploitasi ekonomi satu negara atas negara lain.
Dalam periodisasi yang lazim, imperialisme dibagi menjadi dua periode. Yang pertama adalah imperialisme kuno atau (ancient imperialism), yang intinya adalah prinsip gold, gospel, dan glory. Imperialisme ini berlangsung sebelum revolusi industri dan dipelopori oleh Spanyol dan Portugis. Periode kedua adalah imperialisme modern, yang intinya adalah kemajuan ekonomi. Imperialisme modern muncul sesudah revolusi industri. Industri besar-besaran membutuhkan banyak bahan mentah dan pasar yang luas. Para imperialis mencari jajahan untuk dijadikan sumber bahan mentah dan pasar bagi hasil-hasil industri kemudian juga sebagai tempat penanaman modal bagi surplus kapitalis (http://id.wikipedia.org/wiki/Imperialisme).
Unsur selanjutnya adalah kolonialisme. Kolonialisme merupakan pengembangan kekuasaan sebuah negara atas wilayah dan manusia di luar batas negaranya, seringkali untuk mencari dominasi ekonomi dari sumber daya, tenaga kerja, dan pasar wilayah tersebut (http://id.wikipedia.org/wiki/Kolonialisme). Definisi kolonialisme menyatakan bahwa kolonialisme merupakan satu praktik dominasi yang melibatkan subjugasi satu orang terhadap yang lain.
Seperti imperialisme, kolonialisme juga melibatkan kontrol politik dan ekonomi terhadap satu teritori yang dependen. Kolonialisme sangat sulit dibedakan dari imperialisme. Satu-satunya perbedaan hanya dapat dilihat dari etimologi kedua konsep tersebut. Istilah koloni berasal dari kata Latin colonus, yang berarti ‘petani’. Ini mengingatkan kita pada praktik kolonialisme yang biasanya melibatkan proses pemindahan populasi ke satu wilayah, di mana mereka akan tinggal di tempat tersebut secara permanen dan tetap mempertahankan afiliasi politik dengan negara asalnya. Di sisi lain, imperialisme berasal dari kata Latin imperium, yang berarti ‘memerintah’. Dengan demikian, imperialisme lebih merupakan cara bagaimana satu negara menjalankan kekuasaan atas negara lain, apakah melalui pembentukan koloni, kemakmuran, atau mekanisme kontrol tak langsung (http://plato.stanford.edi/entries/colonialism).

Sementara itu, kapitalisme secara umum mengacu pada satu sistem ekonomi yang di dalamnya semua atau sebagian besar alat-alat produksi dimiliki secara privat dan dioperasikan demi keuntungan (http://en.wikipedia.org/wiki/Capitalism). Selain itu, dalam sistem ini, investasi, distribusi, pendapatan, produksi, dan penentuan harga barang-barang dan jasa ditentukan melalui operasi ekonomi pasar. Kapitalisme biasanya melibatkan hak-hak individu dan sekelompok individu yang berperan sebagai “orang-orang legal” atau korporasi-korporasi yang memperdagangkan barang-barang kapital, buruh, dan uang.
Ada beberapa pengertian lain soal kapitalisme. Yang pertama adalah bahwa kapitalisme merupakan sebuah sistem yang mulai terinstitusi di Eropa pada masa abad ke-16 hingga abad ke-19–yaitu di masa perkembangan perbankan komersial Eropa, di mana sekelompok individu maupun kelompok dapat bertindak sebagai suatu badan tertentu yang dapat memiliki maupun melakukan perdagangan benda milik pribadi, terutama barang modal seperti tanah dan tenaga manusia, pada sebuah pasar bebas di mana harga ditentukan oleh permintaan dan penawaran, demi menghasilkan keuntungan di mana statusnya dilindungi oleh negara melalui hak pemilikan serta tunduk kepada hukum negara atau kepada pihak yang sudah terikat kontrak yang telah disusun secara jelas kewajibannya baik eksplisit maupun implisit serta tidak semata-mata tergantung pada kewajiban dan perlindungan yang diberikan oleh kepenguasaan feodal.
Yang kedua, kapitalisme adalah teori yang saling bersaing yang berkembang pada abad ke-19 dalam konteks Revolusi Industri, dan abad ke-20 dalam konteks Perang Dingin, yang berkeinginan untuk membenarkan kepemilikan modal, untuk menjelaskan pengoperasian pasar semacam itu, dan untuk membimbing penggunaan atau penghapusan peraturan pemerintah mengenai hak milik dan pasaran. Ketiga, kapitalisme dianggap sebagai suatu keyakinan mengenai keuntungan dari menjalankan hal-hal semacam itu. Keempat, kapitalisme adalah suatu sistem ekonomi yang mengatur proses produksi dan pendistribusian barang dan jasa dengan ciri-ciri: sebagian besar sarana produksi dan distribusi dimiliki oleh individu; barang dan jasa diperdagangkan di pasar bebas (free market) yang bersifat kompetitif; dan modal kapital (baik uang maupun kekayaan lain) diinvestasikan ke dalam berbagai usaha untuk menghasilkan laba (profit).
Nicholas Garnham dalam Capitalism and Communication: Global Culture and the Economics of Information mendefinisikan kapitalisme sebagai “a mode of social organization characterized by the domination of exchange relation”. Lebih jauh lagi, Garnham menegaskan bahwa hubungan partikular antara yang abstrak dan yang konkret, atau antara gagasan-gagasan dan hal-hal, yang relevan bagi materialisme historis sebagai satu moda analisis kapitalisme, berakar pada hubungan nyata antara yang abstrak (relasi pertukaran) dan yang konkret (pengalaman hidup individu, tenaga kerja, dsb.) (Garnham, 1990:22).
Ada beberapa elemen kunci yang kerap disebut dalam pendefinisian kapitalisme: sistem, modal (kapital), kepemilikan individu, proses produksi, kompetisi, pasar bebas, investasi, dan profit. Kata-kata kunci ini menjadi faktor determinan dalam implikasi-implikasi praktis operasi kapitalisme dan itu akan terlihat dalam sejarah panjang perkembangan kapitalisme.
Pada umumnya para sejarawan ekonomi sepakat bahwa kapitalisme sebagai moda pengorganisasian kehidupan sosial dan ekonomi tidak hanya dimulai di satu tempat di dunia, dalam hal ini Eropa Barat Laut, melainkan sejak tahap sangat awal, ketika masih dalam proses pembentukan pada abad ke-16, yang melibatkan ekspansi ke luar yang secara bertahap melintasi wilayah-wilayah yang kian luas di dunia dalam satu jaringan pertukaran materi. Jaringan pertukaran materi ini seiring waktu berkembang menjadi pasar dunia bagi barang-barang dan jasa, atau bagi pembagian kerja internasional (division of labour). Pada akhir abad ke-19, proyek satu ekonomi dunia yang kapitalistik telah terbangun dalam arti bahwa lingkup hubungan-hubungan mencakup semua wilayah geografis dunia (Hoogvelt, 1997: 14).

Abad ke-19 secara khusus mencuat sebagai waktu utama perkembangan pembagian kerja internasional. Diperkirakan bahwa dalam tiap dekade pada abad ke-19, perdagangan dunia tumbuh 11 kali lebih cepat dari produksi dunia, dan pada 1913, saat Perang Dunia I, 33 persen produksi dunia diperdagangkan di luar batas nasional negara-negara (Horvat, 1968:611 dalam Hoogvelt, 1997: 14).
Ini sejalan dengan yang diungkapkan George Ritzer dalam Modern Sociological Theory (1996). Ritzer menyatakan bahwa Revolusi Industri yang terjadi hampir di seluruh masyarakat Barat, terutama pada abad ke-19 dan awal abad ke-20–bersama berbagai perkembangan yang terkulminasi menjadi transformasi dunia Barat dari masyarakat agriluktur menjadi satu sistem masyarakat Industri–memunculkan satu sistem masyarakat di mana muncul birokrasi ekonomi yang besar untuk melayani banyak kebutuhan industri dan sistem ekonomi kapitalis yang baru muncul. Sasaran ideal dari sistem kapitalisme ini adalah pasar bebas, di mana berbagai produk industri dapat ditransaksikan (Ritzer, 1996: 6-7). Bagian dari dunia yang kini disebut sebagai Dunia Ketiga, yakni Amerika Selatan, Afrika, Asia–terkecuali Jepang–, berpartisipasi secara penuh dalam pasar internasional. Pada 1913, Dunia Ketiga menangkap 50 persen pasar dunia (bandingkan dengan 22 persen saat ini) (Mun, 1928:5 dalam Hoogvelt, 1997:14).
Praktik ekonomi kapitalistik terinstitusional di Eropa antara abad ke-16 dan ke-19 dan bentuk awal kapitalisme perdagangan (merchant capitalism) berkembang pada Abad Pertengahan. Menurunnya feodalisme pada saat itu mengikis kekangan politis dan religius tradisional dalam pertukaran-pertukaran kapitalis. Hal-hal yang menyulitkan terjadinya akumulasi kapital–seperti tradisi dan kontrol, aturan-aturan aristokrasi, yang mengambil alih kapital melalui denda secara sewenang-wenang, dan pajak, pada abad ke-18–berhasil diatasi dan kapitalisme menjadi sistem ekonomi yang dominan di United Kingdom dan pada abad ke-19 kapitalisme menjadi sistem ekonomi dominan di Eropa. Setelah menguasai Eropa, kapitalisme secara bertahap menyebar dari Eropa, khususnya dari Britania, melintasi batas-batas politik dan budaya. Pada abad ke-19 dan 20, kapitalisme menyediakan perangkat-perangkat utama industrialisasi ke sebagian besar penjuru dunia (http://en.wikipedia.org/wiki/Capitalism).
Periode awal kapitalisme atau merchant capitalism atau merkantilisme ini juga disebut sebagai kapitalisme perdagangan. Periode ini dikaitkan dengan penemuan-penemuan oleh pedagang-pedagang lintasnegara–terutama dari Inggris dan Negara-Negara Dataran Rendah–, kolonisasi Eropa terhadap Amerika, dan pertumbuhan pesat perdagangan lintasnegara. Merkantilisme adalah sistem perdagangan demi profit, meskipun sebagian besar komoditas masih diproduksi oleh metode produksi nonkapitalis. Di bawah merkantilisme, para pedagang Eropa, dengan dukungan kontrol, subsidi, dan monopoli negara, mendapatkan keuntungan dari pembelian dan penjualan barang-barang.  Francis Bacon menyatakan bahwa tujuan merkantilisme adalah “the opening and well-balancing of trade; the cherishing of manufacturers; the banishing of idleness; the repressing of waste and excess by sumptuary laws; the improvement and husbanding of the soil; the regulation of prices…” (Bacon dalam The Seventeenth Century, 1961, dalam http://en.wikipedia.org/wiki/Capitalism).
Para perintis merkantilisme menekankan pentingnya kekuatan negara dan penaklukan luar negeri sebagai kebijakan utama dari kebijakan ekonomi. Jika sebuah negara tidak mempunya bahan mentahnya, maka mereka mesti mendapatkan koloni yang akan menjadi sumber bahan mentah yang dibutuhkan. Koloni juga akan berperan sebagai pasar barang jadi. Agar tidak terjadi kompetisi, koloni harus dicegah untuk melaksanakan produksi dan dengan pihak lain. Dalam situasi ini, terwujudlah pembagian kerja (division of labor) internasional.
Seperti dikatakan oleh Immanuel Wellerstein, kita menyebut pembagian kerja internasional ini sebagai ekonomi dunia kapitalis karena kriteria definitifnya adalah produksi barang dan jasa untuk dijual di pasar yang tujuannya adalah untuk memaksimalkan profit (dalam Wellerstein, 1979 dalam Hoogvelt, 1997: 14). Dalam pasar kapitalistik, kekuatan permintaan dan penawaran yang tampaknya netrallah yang menentukan harga satu produk dan dengan demikian memberi sinyal kepada produsen apakah mereka mesti melakukan ekspansi produk, mengurangi output, atau mengubah teknik produksi, mengurangi struktur biaya, dan sebagainya. Dengan kata lain, melalui medium tangan tak terlihat (invisible hands) Adam Smith dalam The Wealth of Nations (1776)–yang telah menjadi menjadi “global invisible hand” pada akhir abad ke-19–aktivitas manusia dikoordinasikan secara rapi melintasi batas-batas nasional (Hoogvelt, 1997: 15).
Dari uraian-uraian di atas, terlihat bahwa ada beberapa hal yang selalu muncul  dalam pembahasan kritis soal kolonialisme, imperialisme, dan kapitalisme. Beberapa karakter tersebut adalah penguasaan (baik secara koersif atau nonkoersif), eksploitasi (baik terhadap sumber daya alam dan manusia atau pada pemikiran), keuntungan atau profit (bagi negara-negara pelaku, yang selalu berasal dari Eropa Barat dan Amerika Utara), ekonomi (yang menjadi latar belakang pendorong), dan hubungan yang sarat dengan ketidaksetaraan (satu atau sekelompok diuntungkan dan yang lain dirugikan). Ketiga konsep tersebut dalam analisis yang fokus pada pendekatan histori maupun analisis, kerap berkaitan satu sama lain. Itu bisa terlihat dari teori periodisasi di bawah ini.
Sejumlah ilmuwan yang fokus pada sistem dunia memunculkan proposisi soal periodisasi perkembangan kapitalisme, yang di dalamnya karakteristik kapital inti dan hubungannya dengan wilayah periferal sangat beragam. Perbedaan-perbedaan itu dilihat sebagai satu hasil dialektis dari kontradiksi-kontradiksi yang ditimbulkan dalam tiap periode interaksi. Para ilmuwan Neo-Marxist, seperti Samir Amin, Andre Gunder Frank, Ernest Mandel, Albert Szymanski, dan Harry Magdoff, secara umum mengidentifikasi tahap prakompetitif merkantilis (1500-1800), tahap kapitalis kompetitif (1800-1880), tahap monopoli/imperialis (1880-1960), dan beberapa ilmuwan bahkan mengidentifikasi satu tahap monopoli imperialis/kapitalis lanjutan (yang dimulai oleh krisis pada 1968).
Dalam tiap periode, periferi menjalankan fungsi tertentu dalam melayani kebutuhan-kebutuhan esensial akumulasi di sentral. Namun, kebutuhan-kebutuhan esensial ini berubah akibat hasil gemilang pelayanan tersebut. Dan karena interaksi dialektis antara core dan periferi memunculkan tingkat perbedaan perkembangan yang kian meningkat di core dan periferi dalam tiap periode, core dan periferi terpisah kian jauh, menuju satu titik krisis dalam hubungan tersebut, yang kemudian diatasi dengan mengubah struktur formalnya dan metode akstraksi surplus dari core ke periferi (Hoogvelt, 1997: 16). 
Sementara itu, Ankie Hoogvelt juga memunculkan periodisasi ekspansi kapitalisme yang berbeda. Periodisasi yang disebutnya sebagai periodisasi yang dikatakan merupakan periodisasi yang “mengabaikan variasi geografis yang luas”, Hoogvelt membagi ekspansi kapitalisme menjadi empat periode. Yang pertama adalah fase merkantilisme, transfer surplus ekonomi melalui penjarahan dan perampasan yang disamarkan menjadi perdagangan (1500-1800). Kedua, periode kolonial, transfer surplus ekonomi melalui syarat-syarat pedagangan yang tak setara yang dilakukan melalui pembagian kerja internasional yang dilakukan melalui kolonialisme (1800-1950). Yang ketiga adalah periode neo-kolonial, transfer surplus ekonomi melalui developmentalism dan technological rents (1950-70). Yang terakhir adalah pascaimperialisme, transfer surplus ekonomi dilakukan melalui peonage (upaya membuat pengutang melakukan segala sesuatu bagi terutang) utang (1970-saat ini).
Tahap pascaimperialisme, pada akhir abad ke-20, ditandai dengan pertumbuhan eksplosif perusahaan-perusahaan transnasional, yang memicu munculnya postimperialism theory. Para teoris modern business enterprise, seperti Charles A. Conant, Arthur T. Hadley, Jeremiah W. Jenks, Adolf A. Berle, Jr., Peter F. Drucker, dan Alfred D. Chandler, Jr. menyatakan bahwa dalam sejarah ekonomi Barat, selama akhir abad ke-19 dan setelahnya, korporasi-korporasi menjelma menjadi organisasi ekonomi yang paling efisien dalam lingkup transportasi, komunikasi, produksi, distribusi, dan pertukaran yang semakin luas (Becker, Sklar & Hakim, 1999: 11).
Sementara itu, masih dalam kaitannya dengan periodisasi kapitalisme, Thomas L. McPhail dalam Global Communication: Theories, Stakeholders, and Trends (2002) melihat periodisasi kapitalisme itu sebagai bagian dari analisis makro sistem komunikasi massa, yang antara lain dilakukan oleh Harold Innis, Marshal McLuhan, Armand Mattelart, Jacques Ellul, dan George Barnett. Pemaparan periodisasi yang dilakukan McPhail disebut sebagai pembabakan sejarah atau perkembangan historis tren “pengembangan imperium”, yang pada dasarnya menggambarkan perkembangan dominasi, yang amat mirip dalam perkembangan sejarah kapitalisme, kolonialisme, dan imperialisme, terutama dari perspektif modernisasi (Daniel Larner, Marion Lavy, Neil Smelser, Samuel Eisenstadt, dan Gabriel Almond), dependensi (Paul Baran, Martin Landsberg, dan banyak peneliti lain), dan teori sistem dunia (Immanuel Wellerstein).
McPhail menyatakan bahwa tren pertama dalam pengembangan imperium adalah melalui penaklukan militer, yang ia sebut sebagai kolonialisme militer. Yang kedua adalah penaklukan oleh tentara salib Kristen, yang ia sebut sebagai kolonialisme Kristen. Yang berikutnya adalah kolonialisme merkantilisme, yang ia sebut bertahan hingga pertengahan abad ke-20. Satu elemen kunci yang sangat penting dalam kolonialisme merkantilisme, menurut McPhail, adalah penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg (ini juga disebutkan oleh Nick Stevenson, 1999:34-35 dan McChesney, Wood, dan Foster, 1998, 51-55) karena hal itu memungkinkan terjadinya penyebaran pesan secara cepat dan lebih luas. Berakhirnya PD I dan PD II menandai berakhirnya era kolonialisme militeristik dan menempatkan negara-negara industri sebagai pemimpin jalur vital perdagangan dan praktik komersial global. Ini semua membawa dunia pada periode keempat perkembangan imperium, yakni kolonialisme elektronik. Periode ini diwarnai oleh ketergantungan less developed countries (LDC’s) pada Barat, yang terjadi karena ada ketergantungan perangkat keras komunikasi yang vital dan perangkat lunak yang cuma diproduksi di barat. Selain itu, LDC’s juga amat bergantung pada Barat dalam hal kebutuhan para insinyur, teknisi, yang protokol-protokol yang berkaitan dengan informasi, yang semuanya membentuk sekumpulan norma-norma, niai, nilai, dan ekspektasi asing, yang dalam berbagai tingkat berbeda mengubah budaya, kebiasaan, nilai-nilai dan proses sosialisasi domestik. Semua pemaran ini disebut sebagai electronic colonialism theory (ECT)[1].
Fredric Jameson dan David Harvey, dua ilmuwan Marxis, mengatakan bahwa modernitas dan pascamodernitas merepresentasikan dua fase kapitalisme yang berbeda. Jameson menyatakan bahwa pascamodernitas berhubungan dengan late capitalism atau satu fase kapitalisme multinasional, “informational”, dan “consumerist”. Sementara itu, Harvey mendeskripsikannya sebagai transisi dari Fordism ke akumulasi fleksibel. Gagasan yang sama juga muncul dalam teori-teori “disorganized capitalism”. Pascamodernitas dengan demikian berhubungan dengan satu fase kapitalisme di mana produksi massa barang-barang standar dan bentuk-bentuk pekerjaan yang berkaitan dengan hal itu, telah digantikan oleh fleksibilitas: bentuk baru produksi. 
Ellen Meiksin Wood dalam “Modernity, Postmodernity, or Capitalism?” dalam Capitalism and the Information Age: The Political Economy of the Global Communication Revolution (McChesney, Wood, dan Foster, 1998), menyatakan bahwa periodisasi melibatkan lebih dari sekadar menelusuri proses perubahan. Memproposisikan satu pergeseran sama artinya dengan menentukan mana yang esensial dalam mendefinisikan satu bentuk sosial seperti kapitalisme. Pergeseran epokal berkaitan dengan transformasi-transformasi dasar dalam beberapa elemen konstitutif dasar satu sistem. Dengan kata lain, periodisasi kapitalisme bergantung pada bagaimana kita mendifinisikan sistem ini sejak awal. Dalam hal ini kita harus memahami bagaimana konsep-konsep modernitas dan pascamodernitas menjelaskan bagaimana orang menggunakan konsep-konsep itu untuk memahami kapitalisme. Dalam kesimpulannya, Wood menyatakan bahwa modernitas telah mati, digantikan oleh kapitalisme.
Apa pun fokus dan penggunaan istilahnya, baik imperialisme, kolonialisme, maupun kapitalisme, ada beberapa kesamaan dan warna serta jenis penaklukan dalam periodisasi-periodisasi yang digambarkan di atas. Secara umum, semua periodisasi dimulai dengan penaklukan militer yang dilanjutkan dengan perdagangan sekaligus ekspansi geografis. Pada akhirnya, periodisasi ditutup dengan hilangnya–atau minimnya–peran kekuatan koersif militer dalam penaklukan dan dominasi.
Era terakhir dalam tiap periodisasi selalu diwarnai oleh semakin dominannya unsur-unsur komunikasi dan media komunikasi dalam moda penaklukan, penguasaan, dan dominasi yang lebih halus, yang melibatkan nilai-nilai, norma-norma, dan hal-hal yang jauh dari kesan koersif. Bahkan McPhail menyatakan bahwa periode terakhir, kolonialisme elektronik sebagai satu periode di mana para kolonialis “seeks mind”, sedangkan kolonialisme masih “sought cheap labor”. Secara implisit, McPhail menyatakan ada pergeseran fokus dominasi: dari sesuatu yang bersifat kasar, jelas terlihat, dan fisik menjadi sesuatu yang halus, laten, dan psikis serta mental. Dominasi pada era ini amat sejalan dengan konsep hegemoni Antonio Gramsci[2].

[1] Electronic colonialism merupakan babak selanjutnya dalam pembabakan kolonialisme. Lihat Grafis 1.
[2] Lihat juga McChesney, Wood, dan Foster, 1998: 51-65 dan Stevenson, 1999: 93-109)

HAI TEMAN-TEMAN, MET JUMPA LAGI.... Muah, muah, salam rindu bin kangen 4 all of uuuuu... Salam kangen juga dari teras kanfak, yg katanya merindukan kehadiran dan keributan kalian semua. Met bergabung. Thx Dwin... utk groupnya. CU everybody.

Rabu, 03 Februari 2016

O Worship The King



1.O worship the King, all glorious above
     and gratefully sing His wonderful love
     Our Shield and Defender, the Ancient of Days
     Pavilioned in splendor and girded with praise
  
 2. O tell of His might, O sing of His grace,
    Whose robe is the light,
     whose canopy space !
    His chariots of wrath
     the deep thunder clouds form
    and dark is His path on the wings of the storm.

3. Thy bountiful care what tongue can recite ?
     It breathes in the air, it shines in the light,
     It streams from the hills,
     it descends to the plain
     And sweetly distills in the dew and the rain

4. Frail children of dust, and feeble as frail,
     In Thee do we trust, nor find Thee to fail;
     Thy mercies how tender!
     how firm to the end!
     Our Maker, Defender, Redeemer and Friend.


Senin, 07 Desember 2015

ESKATOLOGI (Akhir Zaman)



ESKATOLOGI

Pengantar

Kembali saya mengingatkan bahwa pembahasan  Eskatologi  dalam Orientasi Staf ini tidaklah dimaksudkan untuk membicarakannya secara  komprehensif sebagaimana dibicarakan di seminari atau sekolah teologia yang minimal membutuhkan satu semester (terkadang dua semester). Hal yang penting adalah pemahaman dasar tentang doktrin ini dan poin-poin penting apa yang disampaikan kepada siswa/mahasiswa ketika membicarakan doktrin ini dalam satu atau dua sesi.

PENDAHULUAN

            Pengajaran eskatologi (akhir zaman) atau biasa juga disebut dengan Kedatangan Kristus yang kedua kali telah banyak mengundang kontroversi di kalangan Kristen. Ada timbul kebingungan di kalangan orang percaya dan mengundang banyak pertanyaan tentang ajaran ini. Mengapa?
            Di satu sisi ada gereja-gereja tertentu yang begitu  menggebu-gebu membicarakannya dengan menggelar seminar akhir zaman yang kadang-kadang tidak proporsional karena mereka begitu berani meramal kedatngan Tuhan Yesus kedua kali secara pasti. Daripada memberikan kejelasan, justru yang terjadi adalah kebingungan di tengah-tengah jemaat.
            Di sisi yang lain ada gereja-gereja yang menganggap pengajaran ini tidak penting sehingga jarang sekali dibicarakan. Maka yang terjadi adalah jemaat tidak mengerti apa-apa tentang pengajaran akhir zaman dan apa yang perlunya jemaat mengerti hal itu. Padahal secara jelas Alkitab membicarakannya dan Yesus meminta orang percaya supaya “membaca tanda-tanda zaman”.
            Sikap mengebu-menggebu yang mengundang sensasi dan ramal-meramal yang berlebihan dan sikap tidak tahu dan masa bodoh terhadap pengajaran akhir zaman adalah dua sikap yang salah. Bagaimana seharusnya sikap yang benar? Kita mempelajarinya dalam terang Alkitab supaya kita tetap “waspada dan berjaga-jaga” bila hari-Nya telah tiba.

PENTINGNYA MEMPELAJARI  ESKATOLOGI

Ada beberapa alasan mengapa kita mempelajari ajaran ini:

1.      Alkitab mengajarkan bahwa sejarah tidak akan berjalan dengan sendirinya begitu saja, tetapi ada dalam kontrol Allah. Sejarah dunia akan berakhir dan itu terjadi pada waktu kedatangan Kristus yang kedua kali, yaitu akhir zaman. (Anthony A. Hoekema sangat bagus membahas tentang arti sejarah dalam bukunya Alkitab dan Akhir Zaman)
2.      Kita orang-orang percaya yang hidup di dunia ini, tidak boleh terlalu disibukkan oleh dunia ini dan melekat kepadanya, sehingga kita lupa bahwa kita nanti akan menerima “suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar, dan yang tidak layu, yang tersimpan di sorga bagi kita (1Pet 1:4). Karena itu kita harus menghubungkan apa yang kita lakukan sekarang dengan pemahaman kita akan kedatangan Tuhan yang kedua kali. Seperti kata Martin Luther, ”Aku hanya punya dua hari, yaitu hari ini dan hari itu. Saya mau hidup hari ini dalam terang hari itu (hari kedatangan Kristus yang kedua)”.
3.      Bahwa kejahatan dan penderitaan yang terjadi di dunia hanya akan berakhir pada akhir zaman. Pengharapan dan kerinduan kita akan dunia yang penuh bahagia dan ideal hanya terpenuhi pada akhir zaman. Sesungguhnya kita tidak bisa  terlalu optimistik terhadap keadaan dunia ini, sebab ada tertulis, “sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat” (2Tim 3:13).

RAMAL-MERAMAL WAKTU TUHAN

            Pada awal kita sebutkan adanya kelompok tertentu yang begitu menggebu-gebu membicarakan akhir zaman dan dengan yakin meramal waktu kedatangan Tuhan. Hal ini telah terjadi sejak lama. Misalnya mereka menyebut tahun 1000, 1260, 1420, 1533, 1843, 1844, 1847, 1851, 1914, 1918, 1925, 1941, 1975, 1982, 1988, 1992 dan 1998. Apa yang terjadi? Semua menjadi kebohongan belaka. Tetapi banyak orang tidak jera, pernah orang dengan sangat yakin mengatakan bahwa akhir zaman akan terjadi tahun 2000.
            Apa yang menjadi dasar kelompok-kelompok ini membuat ramalan? Beberapa prinsip ramalan yang mendasari hitungan-hitungan mereka sbb:

1.      Bagi umat  beriman (anak-anak siang: I Tes 5:1-11) dan yang menerima kuasa Roh kudus (Kis 1:6-8), waktu kedatangan Yesus dianggap dapat diketahui. Artinya umat Kristen yang menerima Roh (dibaptis dengan Roh dan berbahasa lidah) akan tahu dengan tepat kapan Yesus datang kembali.
2.      Adanya usaha untuk menghitung angka-angka bilangan dalam Alkitab yang dianggap dapat meramalkan dengan tepat terjadinya peristiwa akhir akhir zaman dan kedatangan Tuhan yang kedua kali.
3.      Biasanya rumus perhitungan yang dipakai adalah 1 hari = 1 tahun (Bil 14:34; Yeh 4:4-6) dan 1 hari =1000 tahun (2Pet 3:8; Mzm 90:4) sebagai rumus perhitungan untuk menunjukkan tahun yang pasti dari peristiwanya.
4.      Penciptaan bumi dalam dalam 6 hari diakhiri dengan Sabat hari ke-7 dianggap sama dengan dengan 6000 tahun sejarah bumi dan diakhiri 1000 tahun sabat (kerajaan seribu tahun), dan hari penciptaan dianggap pada tahun 4000 SM, dan Kerajaan Seribu Tahun dianggap dimulai pada tahun 2000. Perhitungan di atas didasarkan rumus 1 hari sama dengan 1000 tahun, dan dianggap bahwa kerajaan seribu tahun (Why 20) sama dengan 1000 x 365 hari, bukan pengrtian lambang.
5.      Tahun akhir zaman juga dikaitkan dengan berdirinya negara Israel (1948) sebagai pemenuhan tanda bertunasnya pohon ara di mana Yesus dianggap datang dalam kurun waktu satu generasi/satu angkatan (Mat 24:32-34) sesudah tahun itu. Ada yang berpendapat 50 tahun sehingga Yesus dipastikan datang tahun 1998.
6.      10 negara Eropa yang bergabung dalam ME  ditafsirkan sebagai penggenapan Wahyu mengenai 10 jari patung (Dan 2:31-45) dan binatang dengan 10 tanduk (Dan 7:7-10; Why 1:1-2), sedang raja pada Dan 9:27 dianggap sebagai presiden Eropa Serikat yang akan berfungsi sebagai AntiKristus yang pemerintahannya mendatangkan sengsara besar. Pada akhir masa tujuh tahun terakhir ini, Yesus akan datang ke bumi disertai orang sucinya dan akan memerintah bumi selama 1000 tahun  (Why 20 ) dan Iblis dibelenggu. Pada akhir kerajan seribu tahun, Iblis akan dilepas seketika lamanya dan kemudian terjadi hukuman yang terakhir. Sesudah itu muncullah Langit dan Bumi Baru.

PENGAJARAN ALKITAB TENTANG ESKATOLOGI

Apakah penafsiran dan ramalan-ramalan yang dikemukakan diatas dapat dipertanggung-jawabkan ketepatannya? Apakah sebenarnya yang dikatakan dan dimaksudkan oleh Alkitab tentang akhir zaman/ kedatangan Yesus yang kedua kali ?

A. Kristus Pasti Datang Kembali

            Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Kristus pasti akan datang kembali. Dia sendiri membicarakan hal itu panjang lebar dengan murid-murid-Nya (Mat 24-25). Beberapa ayat perlu kita perhatikan :
-          Mat 24 : 44 : “karena itu berjaga-jagalah sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang”.
-          Mat 24 : 44 : “sebab itu hendaklah kamu siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”
Ketika Yesus naik ke surga, dimana murid-murid menatap ke langit, dua orang berpakaian putih berkata kepada mereka :
“Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama” (Kis 1:11).
Paulus sendiri sering kali menulis hal itu dalam surat-suratnya dan sangat merindukanperistiwa tersebut. Misalnya :
“Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya ; tetapi bukan hanya kepadaku ,melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya (2 Tim 4:8).
Bahkan dalam suratnya yang pertama kepada jemaat Tesalonika, Paulus menyinggung hal ini pada setiap pasal, misalnya 1:9-10 ; 2:19-20 ; 3:13 ; 4:13-18 ; 5:23.
            Murid Yesus yang lain juga membicarakannya, misalnya Petrus ( 1Pet 1:7,13 ; 2Pet 1:16 ; 3:4,12), Yohanes (1Yoh 2:28) ; Yakobus (Yak 5:7-8).
            Dari penjelasan Alkitab tersebut, kita harus menolak teori yang meragukan kedatangan-Nya yang kedua kali. Dia pasti datang, tetapi yang tidak pasti adalah waktu kedatanganNya. Memang ada orang yang mencoba meramalkannya dengan spekulatif atau dengan cara tertentu yang diberi label “berdasarkan  Alkitab”. Tetapi mereka harus
mengingat bahwa Tuhan Yesus telah berkata, “tetapi tentang hari  atau waktu itu tidak seorang pun tahu  ….”(Mrk 13: 12) dan “Engkau tidak perlu menetahui masa da waktu, yang ditetapkan Bapa menurut kuasa-Nya” (Kis 1:7). Jika Yesus berkata demikian,
apakah artinya kalau ada hamba Tuhan yang mengajarkan tanggal dan tahun kedatangan Yesus secara pasti ?

B. Sifat Kedatangan Kristus

1. Personal
    Kis 1:11; 14:3b; 1Tes 4:16-17.
2. Fisik/Dengan Tubuh
 Kedatangan Yesus yang kedua bukan bersifat rohani, tetapi orang percaya melihat kedatanganNya secara fisik,memiliki tubuh kebangkitan, tubuh kemuliaan (Kis 1:11).
3. Visible (dapat dilihat)
“Dia akan datang dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga” (Kis 1:11). Perhatikan juga perkataan Tuhan Yesus dalam Mat 24:30 :
“ Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di Langit dan semua bangsa di Bumi akan menatap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaanNya”.
4. Unexpected (tidak terduga)
-  Mat 24:38-39 : kedatanganNya diperbandingkan dengan kedatangan Air Bah pada zaman Nuh.
-  1 Tes 5:1-3 : hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam hari.
-  Perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana dan bodoh (Mat 25:1-13).
5. Triumphant and Glorious (penuh kemenangan dan kemuliaan).
- Mat 24:30 : Dia datang dengan segala kemuliaan dan kekuasaan.
- 1 Tes 4:16 : Dia datang disertai penghulu malaikat.

C. Tujuan Kedatangan Kristus

1.      Kebangkitan orang mati – orang percaya dan tidak percaya (Yoh 5:28-29).
2.      Penghakiman terakhir (orang yang tidak percaya dan menolak Kristus akan tinggal di neraka selama-lamanya (Wahyu 20:11-15)
3.      Untuk mengumpulkan umat-Nya (1 Tes 4:17; Why 6:4 ).
4.      Untuk menyelesaikan karya penyelamatan Allah
a. Dosa, kematian, iblis akan disingkirkan dari dunia milik Allah (1Kor 15:22-28;42-57; Why 12:7-11; 20:1-10)
 b.  Zaman baru didirikan (2 Pet 3:1-13; Why 22:1-5)

D. Tanda-tanda Sebelum Kedatangan Kristus

-  Munculnya antiKristus (Mat 24:23-24). “Pembinasa Keji”[ Mat 24:15]
-  Adanya roh-roh penyesat (Mrk 13).
-  Tersebarnya Injil ke seluruh bangsa (Mat 24:14).
-  Penganiayaan yang hebat dan meluas atas orang-orang percaya (Dan 11:44; Mat
     24:9,10; Mrk 13:9,12,13; Luk 21:12-17).
-   Banyaknya orang yang undur dari iman  disertai munculnya nabi-nabi palsu dengan
     tanda-tanda dan mujizat-mujizat (Mat 24:10-11; 1Tim 4:4,1; 2Tim 4:3-4; 2Tes
     2:3,9).
-  Gempa bumi yang dashyat dan bala kelaparan (Why 6:12; 18:8; Luk 21:10,11).
-  Berhimpunnya kembali bangsa Israel dan pertobatan mereka (Rm 11).
-  Datangnya diktator dunia ini (Why13:7).
-  Kehancuran umat manusia oleh api (Why 8:7-8).

KERAJAAN SERIBU TAHUN

            Salah satu topik yang paling banyak dipersoalkan oleh para ahli Alkitab adalah tentang  Kerajaan Seribu Tahun. Topik ini jugalah yang membagi orang Kristen ke dalam kubu-kubu tertentu. Millenium (bahasa Latin), mille = seribu, annus = tahun.
            Dalam Wahyu 20 tertulis : “Ia (malaikat) menangkap naga, si ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan. Dan ia mengikatnya seribu tahun lamanya” (2) “Aku juga melihat jiwa-jiwa mereka, yang telah dipenggal kepalanya karena kesaksian tentang Yesus dan karena Firman Allah... dan mereka hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun”. (ay 4).
            Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah kerajaan seribu tahun tsb harafiah atau tidak(simbolik)?. Kalau memang kerajaan seribu tahun tsb akan sungguh-sungguh terjadi di bumi, pertanyaan berikutnya adalah apakah Yesus Kristus datang sebelum atau sesudah millenium tsb. Marilah kita lihat empat pandangan berikut. (Anthony Hoekema mengupas topik ini secara mendalam dalam bukunya Alkitab dan Akhir Zaman)

1. Premillennium – Dispensasional.
            Pandangan ini menyatakan bahwa Kristus akan datang kembali sebelum kerajaan seribu tahun. Mereka berpandangan bahwa parousia (kedatangan Kristus yang kedua) akan terjadi dua kali. Pertama, Kristus akan datang secara rahasia untuk orang percaya dan membawa semua orang percaya ke awan/angkasa (rapture) selama kira-kira 7 tahun. Kedua, Kristus akan datang bersama orang-orang percaya ke bumi dan bersama mereka Kristus akan memerintah di bumi selama seribu tahun lamanya. Pada masa ini Iblis diikat selama 1000 tahun lamanya. Setelah masa 1000 tahun ini selesai, iblis akan dilepas untuk waktu yang singkat, tapi Kristus akan segera memusnahkannya. Lalu terbentuklah langit dan bumi baru.
            Kelompok ini tidak melihat kesinambungan antara umat Allah dalam PL (Israel) dengan umat Allah pada PB (gereja orang-orang percaya). Mereka melihat bahwa dua kelompok ini merupakan kelompok terpisah. Karena itu, Allah memperlakukan mereka sebagai 2 kelompok umat yang terpisah sampai kepada kekekalan. Banyak janji-janji Allah pada umatNya (Israel) dan tidak melihat penggenapannya pada PB tapi pada masa kerajaan 1000 tahun. Prinsip pendekatan kelompok ini terhadap Alkitab adalah penafsiran harafiah. Menurut mereka, inilah metode penafsiran yang benar, yang lain salah. Karena itu, Wahyu 20 juga harus dimengerti secara harafiah.
            Pandangan lain dari Kelompok Dispensasional adalah terjadinya beberapa kali kebangkitan manusia serta setidak-tidaknya tiga kali penghakiman terakhir.
(
2. Premilenium – Historis.
            Pandangan ini mengatakan bahwa Kristus akan datang kedua kali ke bumi dan bersama orang percaya akan memerintah selama 1000 tahun lamanya. Kelompok ini percaya akan adanya dua kali kebangkitan orang mati, yaitu, pertama, pada permulaan kedatangan Kristus yang kedua pada awal millenium, yang kedua, adalah pada akhir millenium. Pandangan ini didasarkan pada Wahyu 20, dimana mereka berpendapat bahwa 1000 tahun adalah harafiah dan kebangkitan yang pertama pada ayat 6 adalah kebangkitan tubuh.
            Kelompok ini juga berpendapat bahwa pada masa sebelum millenium akan terjadi siksaan yang dahsyat, kekacauan kosmos dan penderitaan yang hebat. Namun pada saat keadaan yang paling buruk ini Kristus akan datang mendirikan kerajaan seribu tahun. Masa ini adalah masa yang penuh damai dan kebenaran.
3. Post Millenium.
            Penganut pandangan ini meyakini akan terjadi penginjilan yang hebat di bumi, sebagaimana tertulis dalam Mat 24:14 “Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” (Mat 24:14). Mereka percaya bahwa akan tiba masa emas gereja. Doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus “Datanglah kerajaanMu di bumi seperti di Sorga” akan sungguh –sungguh terjadi. Pemerintahan Kristus, dimana Dia memerintah dalam hati manusia, akan terjadi secara sempurna dan bersifat universal. itulah sebabnya pandangan ini disebut “An optimistic view”.
             Menurut pandangan ini dunia yang akan datang tidak memiliki perbedaan esential dengan dunia sekarang ini.  Duania akan semakin baik seiring dengan semakin menyebarnya Injil dan semakin banyak penduduk dunia yang menjadi Kristen. Kejahatan memang tidak hilang sama sekali, tetapi semakin berkurang hingga mencapai titik minimum. Hal ini adalah sebagai akibat hati manusia di bumi semakin berubah. Segala permasalahan yang terjadi akan diselesaikan. Periode ini akan diakhiri dengan parousia, yang disertai dengan kebangkitan orang mati dan penghakiman terakhir.

4. Amillenium.
            A.A.Hoekema, dalam ringkasannya akan posisi Amillenium membagi eschatology menjadi dua yaitu :
-   inaugurated eschatology dan
-   future eschatology.
Yang dimaksud dengan inaugurated eschatology adalah aspek eschatology yang bersifat telah terjadi sekarang ini, yaitu dalam kurun waktu dimana gereja ada dan berkembang – era kabar baik. Sedangkan yang dimaksud dengan future eschatology adalah aspek penggenapannya yaitu ketika Kristus datang kedua kalinya.
            Berkenaan dengan inaugurated eschatology, Hoekema menyebutkan beberapa hal:
1.    Kristus telah menang secara sempurna atas dosa, maut dan setan.
Melalui kehidupan Kristus yang tanpa dosa dan kematianNya di kayu salib karena dosa-dosa kita, maka Kristus telah mengalahkan dosa. Dan melalui kematianNya serta kemenanganNya ketika Dia bangkit, maut telah dikalahkan. Kristus telah mengalahkan setan melalui ketaatanNya yang sempuurna kepada Bapa dan menang atas berbagai pencobaan.
2.      Kerajaan Allah memiliki dua sisi, aspek kekini –sekarang- dan aspek yang akan datang.
Kelompok ini percaya bahwa kerajaan Allah telah didirikan Kristus ketika Dia hidup di dunia ini dan sedang menuju kesempurnaannya pada hidup yad.
Baca : Mat 12:28; Luk 17:20-21; Rom 14:17; I kor 4:19-20; Kol 1:13-14
Aspek yad : I Kor 6:9; Gal 5:21; Ef 5:5; 2 Tim 4:18.
3.      Meskipun hari terakhir bersifat yad, namun kita hidup sekarang dalam zaman akhir (hari-hari terakhir). Yang dimaksud dengan zaman akhir (hari-hari terakhir) adalah zaman diantara Kristus telah datang yang pertama kali dan Kristus akan datang yang kedua kalinya. Kis 2:16-17; I Kor 10:11; I Yoh 2:18.
Baca juga tentang hari terakhir pada: Yoh 6:39-40, 44, 54; 11:24; 12:48.
4.      Sehubungan dengan Wahyu 20, tentang kerajaan 1000 tahun, kita saat ini hidup dalam kerajaan 1000 tahun.
Disini kerajaan 1000 tahun dimengerti mulai kedatangan Kristus yang pertama sampai kepada kedatangan Kristus yang kedua. Pada masa ini setan diikat dalam arti tidak dapat menghambat/menyetop penyebaran Injil dan tidak dapat menipu bangasa-bangsa.Menurut pandangan ini, selama masa 1000 tahun ini, jiwa orang percaya yang telah meninggal sekarang berada di surga. Mereka sekarang hidup dan memerintah bersama Kristus, sementara mereka menantikan kebangkitan tubuh mereka. Dengan demikian,masa millenium pada Wahyu 20 bukanlah harafiah, tetapi mengatakan suatu periode yang cukup lama. Seribu tahun dianggap kelipatan sepuluh yang berarti menyatakan angka sempurna – lama sekali. Bahkan ada yang berpandangan bahwa diikatnya Iblis selama 1000 tahun, sebenarnya menyatakan kemenangan Kristus yang sempurna. Jadi, orang-orang mati (martyr) dalam Kristus, saat ini mengalami kemenangan yang sempurna, memerintah di Sorga bersama Kristus. Dengan demikian, penglihatan ini memberi penghiburan bagi jemaat mula-mula yang begitu menderita karena iman mereka, dan yang anggota keluarganya ada yang menjadi martyr.Menurut pandangan ini, dunia ini kelak akan diakhiri dengan datangnya Kristus yang kedua, pada waktu itu akan terjadi general resurrection dan final judgement.

PANDANGAN MANA YANG LEBIH ALKITABIAH

Membaca panjang lebar uraian dari A.A. Hoekema tentang Kerajaan Seribu Tahun menurut Wayu 20, secara pribadi saya cenderung memilih berada di posisi tersebut. Pemaparannya lebih komperehensif tentang Wahyu 20 karena secara ketat memperhatikan prinsip penafsiran kitab Wahyu secara keseluruhan, yakni paralelisme progresif, sebuah pendekatan yang membagi tujuh bagian kitab Wahyu yang bersifat paralel satu dengan lainnya..Tiap-tiap paralel menggambarkan tentang sejarah gereja dan dunia mulai dari kedatangan Kristus yang pertama kami hingga kedatangan-Nya yang kedua kali. Juga yang bersangkutan memperhatikan genre kitab Wahyu sebagai kitab nubuat dan apokaliptik, yang memang banyak simbol
Paralel-paralel itu adalah pasal 1-3, 4-7, 8-11, 12-14, 15-16, 17-19, 20-22. (Penjelasan panjang lebar tentang paralel progresif ini dibahas oleh A.A. Hoekema dalam bukunya Alkitab dan Akhir Zaman)

PENUTUP

Kristus pasti datang kembali. Kapan? Tidak seorang pun tahu. Apa artinya untuk kita? Untuk mengingatkan kita bagaimana kehidupan kita saat ini? Apakah kita sesuai kehendak-Nya,melayani-Nya atau jauh dari Tuhan ?
            Dan yang terpenting : apakah kita sudah siap? Jadi, waspada dan berjaga-jagalah, sebab Yesus berkata, “YA, AKU DATANG SEGERA !”(Wahyu 22:20). Amin.